Home Sosbud Ornamen Selembayung Diatas Lampu hias Di Bundaran Perempatan Kota Dumai Dicopot

Ornamen Selembayung Diatas Lampu hias Di Bundaran Perempatan Kota Dumai Dicopot

23
0

DUMAI, RiaunetNews.com – Dinas Perhubungan Pemerintah Kota Dumai Copot Ornamen Selembayung dari ujung lampu hias yang berada di perempatan kota jalan Jenderal Sudirman-jalan Sultan Syarif Kasim Kota Dumai.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Pemko Dumai, Said Effendi, membenarkan pihaknya (Dishub) telah mencopot ornamen Selembayung yang ada diatas lampu hias perempatan jalan Jenderal Sudirman-jalan Sultan Syarif Kasim kota.

“Selembayung itu sengaja kita tanggal”, ujar Said Effendi mengakui, saat ditemui Crew riaunetnews.com di ruang kerjanya, kantor Dishub Pemko Dumai, Selasa (22/11/2022).

Menurut Said Effendi, Selembayung yang sudah terpasang di atas lampu hias di perempatan jalan Jenderal Sudirman – jalan Sultan Syarif Kasim Kota Dumai sengaja ditanggal alias dicopot karena Selembayung tidak sesuai dengan keinginan Pemko Dumai.

“Sengaja kita tanggal karena bentuk Selembayung tidak sesuai dengan keinginan kita”, imbuh Said Effendi menjelaskan.

Alasan Said Effendi menanggalkan Selembayung lampu hias di bundaran perempatan kota itu karena lengkungan Selembayung tidak sesuai dan bentuknya juga tidak menyerupai, oleh karena itu Dishub Dumai memutuskan untuk menanggalkannya.

Demikian Selembayung Lampu hias yang ada di taman Bukit Gelanggang Kota Dumai, menurut Said Effendi hal yang sama juga ditanggal.

Dicopotnya ornamen Selembayung yang dililit lampu hias kelap-kelip warna-warni itu kata Said Effendi tidak mengurangi semarak dan keindahan lampu hias saat menyala dimalam hari.

Sebagaimana diketahui, Selembayung merupakan hiasan yang biasanya ditempatkan atau terletak bersilangan pada kedua ujung perabung bangunan sebagai simbol status sosial penghuninya.

Selembayung menjadi simbol budaya yang memiliki banyak makna. Oleh karena itu tak heran jika tampilan sebuah bangunan rumah memiliki nilai sakral dengan berbagai kesan yang ingin ditampilkan.

Bagi masyarakat melayu Riau misalnya, dikenal berbagai jenis bangunan rumah adat yang cukup masyhur, diantaranya Rumah Bubung Melayu, Rumah Bertinggam, Rumah Lontik, Rumah Beratap Limas, Rumah Gajah Menyusu dan sebagainya.

Pada umumnya, setiap bangunan dihiasi dengan ukiran-ukiran yang beraneka ragam seperti selembayung, sayap layang-layang, lebah bergantung, empang leher, hiasan bidai, kisi-kisi lobang angin, hiasan pintu, tingkap dan tiang rumah.

Dalam penampilannya, selembayung pada bangunan rumah-rumah adat melayu atau bangunan-bangunan umum yang ada di Riau menggunakan warna kuning keemasan, sebagai symbol kekuasaan dan kejayaan melayu itu sendiri.

Terkadang juga dipadukan dengan warna merah sebagai symbol keberanian dan persaudaraan yang erat bagi masyarakat melayu.

Jadi tampilan warna selembayung pada sebuah bangunan juga tetap memiliki makna yang ingin disampaikan kepada khalayak, tidak sembarangan memberikan warna pada ukiran yang biasanya diletakkan pada bagian perabung atau anjungan sebuah bangunan.

Selembayung Riau telah diaktualisasikan pada bangunan-bangunan perkantoran dan instansi yang ada di Riau. Bahkan di jembatan, di gapura, gedung olahraga, ornamen selembayung bisa kita temukan.

Namun penggunaan symbol ini semestinya dipahami makna dan tujuannya, sehingga beberapa tempat yang tak sesuai, tak perlu menggunakan simbol selembayung karena Selembayung memiliki nilai filosofi budaya yang tinggi sehingga perlu diperhatikan tempat penggunaannya.***